Neil Armstrong Pernah Mendarat di Bulan?
Senin, 30 Agustus 2010 - Erupsi surya menyirami bumi terus dengan partikel. Letupan gamma sesekali terjadi. Bagaimana mungkin para astronot Apollo bisa lolos dan mendarat di bulan?
Mengkritisi
sebuah pencapaian sains merupakan hal yang lumrah. Ia malah merupakan
sebuah kewajiban bagi seorang ilmuan. Walaupun bukan kewajiban bagi
awam, orang awam juga bisa mengkritisi asalkan memiliki argumentasi yang
kuat. Pendaratan Neil Armstrong di bulan misalnya. Jika memang terjadi
bukankah hal ini merupakan pencapaian besar. Tapi kita tidak bisa
percaya begitu saja, bisa jadi hal tersebut rekayasa Amerika.
Gini
loh. Usaha pendaratan manusia di bulan oleh NASA dipicu oleh persaingan
antariksa dalam perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet.
Uni Soviet sudah berhasil menempatkan manusia pertama di luar angkasa,
si Yuri Gagarin itu loh. Amerika Serikat mana?
Sekarang
NASA mengklaim kalau mereka berhasil mendaratkan manusia pertama di
Bulan. Pertama yang ada di pikiran anda, siapa yang pertama kali akan
mengkritik? Tentu saja Uni Soviet toh. Bisa saja Uni Soviet bilang, Ah
itu kebohongan besar! Uni Soviet bukan sembarang negara, ia punya
agen-agen rahasia dan teknologi setara NASA saat itu. Bukankah cukup
mudah bagi Uni Soviet untuk membongkar kebohongan NASA saat itu?
Bukankah mereka yang akan berteriak sampai keluar urat leher bila memang
pendaratan Neil Armstrong di Bulan ternyata palsu?
Kita
sudah jauh sekali dari saat-saat hebohnya berita ini. Juli 1969
merupakan saat dimana sebagian besar pembaca artikel ini belum lahir.
Mungkin saja saat itu publik Amerika Serikat dibungkam sedemikian hingga
kritik dari Uni Soviet tidak ditanggapi, belum lagi masalah
patriotisme. Uni Soviet bisa jadi seperti berteriak di ruang hampa
udara. Tidak terdengar sama sekali.
Sekarang
Uni Soviet sudah runtuh. Tapi beberapa orang yang kritis dan punya
kapasitas untuk mengkritisi mengajukan beberapa kejanggalan. Tujuannya
bisa jadi baik, menunjukkan awam mengenai proses ilmiah itu bagaimana.
Seperti biasa, media dengan cepat segera menyabetnya, dan tersebarlah
berita baru kalau pendaratan manusia di bulan adalah rekayasa NASA.
Cukup
mengesankan memang. Bukti publik mengenai pendaratan di bulan hanyalah
setumpuk foto hitam putih, rekaman pembicaraan, video, batu dan artifak
bulan. Rasanya bukti yang diberikan kurang meyakinkan. Well, foto bisa
dibuat dimana saja, studio misalnya. Aktor bisa saja membuat pembicaraan
berdasarkan skenario seolah mereka astronot. Dan batu bisa saja diambil
dari kutub Selatan.
Lagi pula ada
beberapa keanehan dalam potretnya. Kenapa tidak ada bintang? Bukankah
bulan tidak memiliki atmosfer? Seharusnya banyak bintang toh? Pertanyaan
ini kritis. Tapi ini sama sekali bukan bukti bahwa NASA berbohong.
Cobalah, NASA yang terdiri dari para ilmuan bumi dan antariksa entah
bagaimana bisa lupa meletakkan bintang di foto? Bukankah ini kesalahan
yang konyol?
Baiklah. Bila demikian
mari kita lebih terstruktur. Kita daftarkan beberapa bukti kalau Neil
Armstrong pernah mendarat di bulan dengan cara menyanggah kritisi dari
berbagai pihak.
Kenapa bisa ada jejak kaki di Bulan?
Bulan
bukanlah tempat tanpa gravitasi. Gravitasi bulan seperenam kali
gravitasi bumi. Walau begitu, lokasi astronot membuat jejak kaki ada di
debu yang halus. Selain itu, bulan tidak memiliki atmosfer. Akibatnya
tidak ada angin yang mampu menyingkirkan jejak yang telah dibuat. Coba
anda ambil debu halus dan taburkan di lantai. Debunya bisa talcum powder
buat bayi. Anda bisa membuat jejak kaki di atasnya. Hal ini karena
partikel menjaga posisinya karena gesekan di antara mereka. Sayangnya,
di bumi ada udara. Dalam beberapa detik, jejak yang kamu buat akan
tersapu angin. Beda dengan di bulan.
Bendera Amerika di bulan terlihat berkibar-kibar, padahal tidak ada angin!
Terlihat
berkibar-kibar? Apa benar? Itu hanya foto loh, bukan video. Bendera
tidak berkibar-kibar dalam foto. Begini saja, anda lihat dua foto ini.
Foto pertama menunjukkan astronot baru selesai memasang bendera dan
memberi hormat. Foto kedua dibuat beberapa detik setelahnya, sang
astronot tidak lagi memberi hormat. Perhatikan benderanya? Posisinya
sama. Bukankah paling tidak ada sedikit perbedaan di benderanya kalau
benderanya berkibar?

Aldrin memberi hormat bendera setelah memancangkannya di bulan (lihat tonjolan kecil di atas helmnya yang merupakan jarinya)

Potret enam detik setelah potret di atas. Aldrin telah menurunkan tangannya. Perhatikan bahwa bendera sama sekali tidak berubah
Terus
bagaimana benderanya bisa berkerut? Perhatikan baik-baik. Ujung bendera
tersebut seperti kaku. Ada sebuah kawat yang dimasukkan ke dalam
kainnya. Kawat ini dibentuk sehingga bendera tersebut, well, terlihat
seperti bendera. Bukannya sebuah papan reklame yang datar. Ini juga
bukan semata estetika. Astronot memasangnya untuk menegakkan bendera
tersebut. Sulit loh merentangkan kain di ruang hampa udara dan
bergravitasi rendah seperti bulan.
Bukankah para astronot tidak akan selamat karena radiasi saat memasuki Sabuk Van Allen?
Sabuk
Van Allen adalah sebuah zona yang diciptakan oleh medan magnet Bumi di
luar angkasa. Sabuk ini berfungsi melindungi Bumi dari radiasi matahari
yang berbahaya (yang gak bahaya bisa lewat). Medan Magnet Bumi
mengumpulkan radiasi ini, dan menjebaknya di lapisan berbentuk sabuk
mengelilingi Bumi. Dari situ namanya disebut sabuk. Pesawat antariksa
bisa rusak bila selama berhari-hari berada di dalam sabuk ini terus
menerus. Pesawat Apollo hanya memerlukan waktu empat jam untuk
menembusnya. Sama sekali tidak berbahaya. Menurut kata Phil Plait, lebih
berbahaya kalau kita mengambil foto rontgen sinar X di dada saat di
Rumah Sakit daripada melewati sabuk Van Allen selama empat jam. Di luar
sabuk ini, radiasi jatuh ke tingkat yang sangat rendah sehingga hanya
berbahaya bila kita bertahun-tahun di sana. Bahkan radiasi sabuk Van
Allen justru merupakan bukti para astronot pernah ke Bulan. Irene
Schneider melaporkan kalau 33 dari 36 astronot Apollo yang terlibat
dalam sembilan misi Apollo untuk meninggalkan orbit Bumi mengalami tahap
awal perkembangan katarak akibat terpapar radiasi sinar kosmik saat
perjalanan.
Bagaimana dengan kamera yang melayang saat modul bulan meninggalkan permukaan? Jangan-jangan ada kameraman tersembunyi.
Kamera
tersebut di kendalikan dari Bumi. NASA tahun 1965 sudah cukup maju
untuk teknologi kendali jarak jauh. Mereka sudah banyak belajar dari
kesalahan. Paling tidak usaha rintisan penerbangan ke bulan sudah sejak
tanggal 17 Agustus 1958. Saat itu Pioneer 0 diluncurkan dan meledak 77
detik setelah lepas landas. Soviet melakukan kesalahan yang sama pada
misi pertama menuju bulan, 23 september 1958 dengan misi Luna 1958A.
Pioneer 1 NASA tanggal 11 oktober 1958 juga tidak mampu mencapai bulan
dan jatuh ke bumi. Soviet kemudian mengirim Luna 1958B keesokan harinya.
Satelit ini meledak begitu lepas landas. Tanggal 8 November 1958,
Pioneer 2 diluncurkan dan gagal lalu jatuh ke Bumi. Giliran soviet
meluncurkan Luna 1958C, tanggal 4 Desember 1958. Satelit ini meledak
setelah lepas landas. Pioneer 3 diluncurkan dua hari kemudian, dan
jatuh. Luna 1 milik soviet tanggal 2 januari 1959 berhasil terbang
dengan baik tapi justru melewati bulan dan terjatuh ke dalam matahari.
Soviet sedikit senang karena walaupun tidak berhasil ke bulan, mereka
berhasil ke matahari. NASA cukup cemburu, dan akhirnya tanggal 3 Maret
1959, NASA meluncurkan Pioneer 4. Ini adalah pesawat tanpa awak pertama
yang berhasil mengorbit bulan. Anda lihat, ada sederetan kegagalan dan
bagi bangsa yang cerdas, setiap kegagalan adalah satu langkah menuju
keberhasilan. Misi luar angkasa pada awalnya selalu diawali dengan
penerbangan tanpa awak, karena kemungkinan gagal sangat besar dan
kematian seorang astronot yang sudah dilatih dengan teknologi dan dana
begitu banyak adalah kerugian besar. Ketimbang membiarkan para astronot
mengendalikan sendiri pesawat ke luar angkasa, para insinyur berusaha
dengan segenap kejeniusan mereka menyempurnakan teknologi pengendalian
jarak jauh. tahun 1959 mereka berhasil mengendalikan pesawat dengan
sukses ke bulan. Cukup wajar bagi mereka untuk mampu mengendalikan
kamera di bulan dari Bumi pada tahun 1965. Selain itu, teknologi kendali
jarak jauh luar angkasa pada prinsipnya lebih sederhana daripada
kendali jarak jauh bumi. Di bumi, kamu harus memiliki berbagai perangkat
tambahan karena bentuk permukaan bumi yang bulat. Di langit, gampang
saja, sinyal akan memancar lurus ke bulan. Dalam beberapa saat memang,
bulan tidak berada dalam jangkauan, dan karenanya pengendalian jarak
jauh pada benda di bulan harus direncanakan waktunya dengan teliti.
Tinggal landas Apollo dari bulan jelas direncanakan pada saat
pengendalian dari bumi bisa dilakukan langsung, saat bulan berada di
atas kepala, bukannya di sisi lain bumi.
Astronot banyak yang dibunuh karena terlalu banyak omong dan suka mengeluh
Siapa
saja namanya dan apa buktinya? Setau saya, astronot pastinya seorang
yang sangat patriotik. Lagi pula mereka pastinya memiliki disiplin
seperti militer. Tidak semestinya astronot banyak omong apalagi
membocorkan rahasia negara. Astronot bukan politisi anak bawang yang
baru belajar jadi menteri loh. Astronot diseleksi dengan hati-hati dan
biaya pendidikannya luar biasa besar. Kematian seorang astronot
merugikan negara sangat besar karena mereka adalah wakil negara.
Bukti independen selain dari NASA mengenai tapak kaki di Bulan mana, citra teleskop misalnya?
Teleskop
optik untuk melihat jejak kaki di bulan masih belum cukup kuat. Hubble
terlalu kecil untuk membuat detil. Ia juga masih terlalu jauh dari
bulan. Bulan itu 382 ribu km jauhnya sementara Hubble hanya beberapa
ratus km di atas sana. Kecil sekali perbedaannya dengan melihat dari
Bumi.
Ini rumus dasar resolusi teleskop: R = 11.6 / D. R adalah ukuran sudut
benda dalam detik busur. Perhatikan satu lingkaran penuh itu 360
derajat, setiap derajat terbagi menjadi 60 menit busur, dan tiap menit
busur terbagi menjadi 60 detik busur. Jadi satu detik busur itu ukuran
yang sangat kecil. Bulan itu ukurannya 0.5 derajat dilihat oleh mata.
Itu ukuran yang sangat besar loh, sekitar 1800 detik busur. D adalah
diameter alat optik dalam satuan cm. Cermin Hubble sendiri ukurannya 240
cm. Masukkan dalam rumus tersebut dan anda dapatkan nilai R = 0.05
detik busur. Agar dapat terlihat jelas, minimal benda yang diamati harus
memiliki nilai 2R, yang berarti Hubble paling mampu mengamati benda
berukuran 0.1 detik busur.
Ini rumus
dasar resolusi benda dilihat dari jarak: (d / D) x 206265 = ?. Dimana d
adalah ukuran nyata dan D adalah jarak. Alpha adalah resolusi dalam
satuan detik busur. Masukkan ukuran tapak kaki di bulan. Menurutmu
berapa? Well, kita coba saja yang sedikit lebih besar. Lokasi pendaratan
Apollo. Lebarnya 4 meter. Jarak dari Hubble adalah 381 juta meter.
Hasilnya? Hanya sekitar 0.002 detik busur. Gak bakalan kelihatan oleh
Hubble. Perlu teleskop berukuran 50 kali Hubble untuk dapat melihat
dengan resolusi demikian dan ini masih diluar jangkauan rekayasa teknik
kita.
Pesawat tanpa awak Lunar
Reconnaissance Orbiter (LRO) tahun 2008 sudah ke Bulan untuk melakukan
penelitian lanjutan, tapi pesawat ini milik NASA juga. Mungkin anda
tidak akan percaya kalau potret-potret LRO membenarkan adanya pendaratan
manusia di bulan, seperti dalam citra ini.

Citra Modul Pendaratan Bulan yang ditinggalkan Apollo di sana dan dikunjungi oleh satelit LROC tahun 2008.
Sumber
independen mungkin adalah pesawat Kaguya milik JAXA, NASA nya Jepang.
Mereka juga membenarkan adanya lokasi pendaratan Apollo di Bulan. Lihat
dua potret ini, satu dari NASA dan satu dari JAXA.

Lokasi
pendaratan apollo 15 dipotret dari jarak jauh oleh satelit Kaguya milik
Jepang. Resolusi kamera Kaguya yang rendah membuat gambar batuan tidak
terlihat
Di waktu siang, suhu bulan bisa mencapai 137.7 derajat Celsius. Film dan benda lain yang dibawa astronot semestinya meleleh
Ya
kalau film kamera analog dibiarkan terbuka jelas dia meleleh. Semuanya
harus dilindungi dalam tabung pelindung. Selain itu, saat misi Apollo
mendarat, waktu yang dipilih selalu saat fajar atau tenggelam matahari.
Hasilnya suhunya tidak terlalu panas.
Bayangan foto astronot di bulan terlihat dari banyak sumber cahaya, seperti di studio TV!
Di
Bulan memang hanya ada satu sumber cahaya, yaitu Matahari. Tapi, para
astronot mengambil potret mereka di sebuah perbukitan yang diterangi
dengan baik. Coba tes sendiri. Berdiri di bawah sinar bulan purnama yang
belum tinggi. Berdirinya di atas bukit. Kontur permukaan yang turun
naik tidak beraturan menghasilkan banyak bayangan dari berbagai panjang.
Akibatnya muncul ilusi kalau ada banyak sumber cahaya, padahal hanya
satu. Ayolah, masak sih NASA sebodoh itu sampai masalah lampu pun lupa.
Bayangan di Bulan itu rumit karena tanah yang tidak beraturan, distorsi
lensa bersudut lebar, cahaya yang dipantulkan dari bumi dan debu bulan
sendiri.
Ruang Angkasa penuh meteor super cepat berukuran kecil yang dapat menghantam kapal dan membunuh astronot

Wah.
Ruang angkasa itu luaaaar biasa luasnya. Walaupun ada sejumlah kecil
meteor demikian di Tata Surya (kecepatannya bisa mencapai 190 ribu km
per jam loh), tapi besarnya ruang angkasa membuatnya sangat langka
ditemukan. Kemungkinan setiap 1 meter kubik ruang angkasa dilewati
meteor mikro demikian sangat mendekati nol. Selain itu, astronot juga
dibekali pakaian yang memuat lapisan kevlar untuk melindungi mereka dari
pecahan yang mungkin ditemui. Flare surya lebih langka lagi yang mampu
mencapai daerah persekitaran bumi dan bulan.
Saat modul bulan mendarat, mesinnya yang kuat tidak membuat bekas kawah yang dalam di permukaan bulan yang lembut
Lapisan
ini tipis. Di bawahnya adalah batuan yang keras. Jadi walaupun kaki
astronot berbekas, kaki modul bulan tidak dapat mencapai kedalaman yang
cukup untuk membuat kawah. Kalau anda lihat videonya, ada sebuah
hentakan yang menunjukkan kalau kaki modul tersebut terdorong balik
karena menghantam lapisan keras.
Tidak mungkin mobil bulan sebesar itu dapat muat dalam modul pendaratan yang kecil
Bisa
saja. Mobil itu dibuat dengan jenius. Bahannya sangat ringan dan
rancangannya yang cerdas membuatnya bisa dilipat-lipat sehingga menjadi
berukuran sebesar tas.
Ruang angkas penuh dengan bintang-bintang. Tapi kenapa dalam foto dari bulan tidak kelihatan bintang
Ah.
Justru aneh kalau dalam foto kelihatan bintang. Coba saja kamu potret
temanmu di waktu malam dengan latar belakang bintang-bintang. Bintangnya
gak bakalan kelihatan. Hal ini karena kecemerlangan benda dekat kamera
yaitu permukaan bulan, menutupi cahaya dari bintang yang jauh. Itu
mengapa teleskop umumnya dibuat di puncak gunung untuk menghindari
polusi cahaya dari bumi, dan itu mengapa di kota yang terang benderang
tidak dapat dilihat bintang sementara di tengah laut dapat dilihat
dengan jelas.
Batu bulan lebih mirip dengan batuan dari Antartika
Presiden
Nixon memberi batu bulan pada 135 negara di dunia, termasuk Indonesia,
dan 50 negara bagiannya. Dilaporkan kalau presiden Nixon pernah
menawarkan presiden Indonesia dan negara lainnya “sepotong bulan sebagai
cenderamata” sebagaimana diberitakan dalamNew York Times, 28 Juli 1969, dan dikutip dalamAstronautics and Aeronautics, 1969: Chronology on Science, Technology, and Policy,
NASA SP-4014 (Washington, 1970), halaman. 249. Sayangnya tidak
diketahui sekarang dimana rimbanya batu bulan pemberian Nixon tersebut
pada negara Indonesia. Mungkin sekali batu tersebut disimpan di Museum
Batu Bulan milik UPT Museum Propinsi Bangka Balitung di Pulau Balitung.
Hal ini diperkuat keterangan majalah Tempo kalau Presiden Nixon dalam
kunjungannya tanggal 27 – 28 Juli 1969 menyempatkan diri berkunjung ke
museum ini.
Banyak batu ini yang
hilang karena berbagai sebab. Tapi selama 40 tahun, para ilmuan yang
beruntung terus mempelajari batuan bulan ini dan menyimpulkan kalau
mereka benar dari bulan.
Sekarang
anda lihat, sepertinya klaim kalau bulan tidak pernah disentuh Neil
Armstrong ini diajukan oleh anak kecil yang tidak tau sains daripada
para pakar fotografi, astronomi atau fisika. Ayolah, paling gak sebelum
mengkritik ada bekal pengetahuan yang cukup gitu.
Jadi, apakah Neil Armstrong pernah mendarat di Bulan? Jawabannya Ya!
Referensi
- Amalfi, Carmelo (November 1, 2006). “Lost Moon landing tapes discovered”. Cosmos Online (Cosmos Magazine).
- Astronomical Society of the Pacific. 2003. Astronomical Pseudo-Science: A Skeptic’s Resource List
- Bennett, M dan Percy, D.S. 2001. Dark Moon: Apollo and the Whistle-Blowers, Adventures Unlimited Press,
- CollectSpace.com. February 28, 2004. Moon rock returns to Honduras
- Compton, W.D. 1996. Where No Man Has Gone Before: A History of Apollo Lunar Exploration Mission. DIANE Publishing
- Cull, Selby (July 12, 2006). “SkyandTelescope.com – News from Sky & Telescope – Predicting Solar Eruptions”. Skyandtelescope.com.
- Irene Schneider The Space Show, November 20, 2005.
- Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). May 20, 2008. The “halo” area around Apollo 15 landing site observed by Terrain Camera on SELENE(KAGUYA)
- NASA SP-4014 (Washington, 1970), Astronautics and Aeronautics, 1969: Chronology on Science, Technology, and Policy,
- Opération lune (2002) (TV) di Internet Movie Database
- Plait, Philip (2002). Bad Astronomy: Misconceptions and Misuses Revealed, from Astrology to the Moon Landing “Hoax”. John Wiley & Sons.
- Tempo, 15 september 1973. Museum Batu Bulan. http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/1973/09/15/ILS/mbm.19730915.ILS62938.id.html
- The Christian Science Monitor, June 17, 2004. In Malta, a moon-rock caper
Sumber : http://www.faktailmiah.com/2010/08/30/neil-armstrong-pernah-mendarat-di-bulan.html







Tidak ada komentar:
Posting Komentar